Senin, 06 Agustus 2012

To Save My Dear Friend - Part 1


TO SAVE MY DEAR FRIEND
~ PART 1 ~


Druala memiliki tiga lapisan utama. Lapisan Atas, tempat makhluk cahaya tinggal; Lapisan Bawah, tempat makhluk kegelapan tinggal; dan Lapisan Tengah yang berada di antara kedua lapisan ini, ditinggali oleh berbagai makhluk, hidup maupun mati.


**Etnis Putih dan Etnis Hitam**

Malaikat adalah salah satu ras yang tinggal di Lapisan Atas. Mereka memiliki sepasang sayap berwarna terang yang dapat mereka simpan di dalam punggungnya. Berbeda dengan Malaikat, ras Iblis tinggal di Lapisan Bawah dan memiliki sayap berwarna gelap. Satu lagi perbedaan yang paling menonjol adalah jumlah etnis murninya - not mixed with other etnics' blood. Jumlah etnis murni ras Malaikat lebih banyak dari jumlah etnis pada ras Iblis. Penikahan antar sepupu untuk mempertahankan kemurnian darah etnis pada ras Malaikat sangat sering terjadi, sebaliknya, pada ras Iblis, hanya sedikit etnis berdarah murni yang bertahan hingga saat ini.

Etnis yang paling menonjol adalah etnis Putih ras Malaikat dan etnis Hitam ras Iblis. Wujud Malaikat etnis Putih sesuai dengan nama etnisnya. Sayap, rambut, dan iris mata mereka berwarna putih salju. Begitu pula dengan Iblis etnis Hitam. Sayap, rambut, dan iris mata mereka berwarna hitam kelam. Kedua etnis ini dikenal bukan hanya karena warna yang tak dapat ditemukan pada etnis lain, tetapi juga karena keindahan tubuh dan wajah mereka yang tak tersaingi di lapisan tempat mereka tinggal.


**Kutukan**

Perselingkuhan sang Raja dengan Malaikat etnis Putih saat ia berada di Lapisan Tengah yang diketahui sang Ratu, berujung pada terbunuhnya malaikat tersebut. Sang Raja yang mengerti bahwa ia telah menorehkan luka yang dalam pada sang Ratu, hanya dapat memandang tubuh dingin wanita yang ia cintai.

Tak puas dengan nyawa malaikat tersebut, sang Ratu yang yakin bahwa Malaikat etnis Putih tersebut yang menggoda sang Raja, mengutuk seluruh ras Malaikat etnis Putih.

Tiap Malaikat etnis Putih yang mendekat akan hancur perlahan-lahan, memberikan energi kehidupannya pada Iblis etnis Hitam yang ia dekati.” - dengan bayaran nyawanya sendiri, sang Ratu mengucapkan kutukan terkelamnya.


**Awal**

Kisah mahluk cahaya ras Malaikat etnis Putih dan makhluk kegelapan ras Iblis etnis Hitam ini dimulai dari cinta pada pandangan pertama Liana, Malaikat etnis Putih kepada Rihan, Iblis etnis Hitam. Keindahan Rihan yang mencengangkan bahkan bagi sesama etnis Hitam membuat Liana tak dapat melepaskan pandangannya dari Rihan saat mereka bertemu di Lapisan Tengah.


**Ketidaksetujuan Aine**

Aku tidak setuju. Segera tinggalkan dia.”

Aku tak peduli dengan pendapatmu, Aine”

Tanggapan Lian (her real name's Liana) yang dingin menusuk hatiku. Kami sudah bersahabat lama dan ia bilang ia tak peduli dengan pendapatku, sahabatnya. Betapa sakit hatiku mendengarnya.

Kita, Malaikat etnis Putih tidak dapat hidup dengan Iblis etnis Hitam. Kau harusnya tahu. Mengapa kau masih menjalin hubungan dengannya??!!” Suaraku meninggi. Emosiku tak dapat kukendalikan.

Aku tidak peduli. Aku mencintai Rihan.” Lian menatapku dengan tatapan dingin yang tak mungkin dimilikinya seminggu yang lalu. Ini pasti pengaruh iblis itu.

Iblis itu mengubahmu. Kau bukan Lian yang dulu.”

Lian menjawabku dengan tersenyum manis dan berkata “Benar.” Aku tak bermaksud membuatnya tersenyum, senyum manisnya mengagetkanku. “Aku bukan Lian yang dulu, Aine. Aku mengenal cinta sekarang.” lanjut Lian yang masih tersenyum manis. Aku selalu menyukai senyumnya dan tak igin senyumnya memudar. Senyum Lian saat membicarakan iblis itu berbeda dengan senyumnya yang biasa. Ia terlihat lebih...lebih bahagi....TIDAK! Aku tak mau mengakuinya. Setiap detik yang ia habiskan bersama iblis itu menguras energi kehidupannya. Saat energinya terkuras, ia akan menghilang, menjadi cahaya. Aku tak mau itu terjadi.

Tapi ia tak mencintaimu.” bisikku.

Air mata mengalir di pipi Lian. Rupanya Lian mendengar bisikkanku. Melihat air matanya, kesedihan menyelimuti hatiku. Tapi, bagaimana pun juga, tidak akan ada akhir bahagia dalam hubungan mereka.

Aku tahu perasaan Rihan tak sama denganku, tapi aku ingin menghabiskan waktuku dengannya.“ mendengar namanya, kebencian otomatis menguasai hatiku.
Lagipula, ia tak keberatan menjalin hubungan denganku meski ia tak mencintaiku. Bukankah aku cukup beruntung?“ lanjut Lian dengan senyum pilu dan air mata yang masih mengalir.

Beruntung?!” Meski tahu ia tak merasa benar-benar bahagia dari senyum pilunya, kebencianku kian mendalam saat mendengar Lian merasa dirinya beruntung.
Ia membunuhmu perlahan-lahan hanya dengan menghabiskan waktu bersamamu! Bagaimana mungkin kau bisa bilang itu beruntung?!! Ia tak mencintaimu! Ia hanya akan menyakitimu! Tak bisakah kau mengerti?”

Tidak ada tanggapan dari Lian pada bentakanku. Ia hanya diam dengan air mata yang terus mengalir. Air matanya sungguh melemahkan hatiku. Ini sangat menyakitkan. Aku tak tega melanjutkan perdebatan ini... Tapi Lian harus disadarkan. Aku tak mau ia mati karena iblis itu.

Meski begitu, air matanya yang mengalir tak berhenti..melunakkan hatiku. “Lian... Waktu yang kau habiskan dengannya tak sebanding dengan hidupmu.” lanjutku seraya mendekat dan menghapus air mata dari wajahnya. “Maaf...aku tak mau kehilangan dirimu.. Mengertilah... Kau tahu aku mengharapkan kebahagiaanmu.” Aku lalu menggenggam tangannya.

Aku tahu, tapi aku sangat mencintainya, Aine. Kau adalah sahabatku yang paling dekat, yang paling kusayang. Aku yakin kau mengerti.” Lian balik menggenggam tanganku. Aku bisa merasakan kesedihannya karena cintanya yang tak terbalas, tapi...

Aku tidak mengerti kenapa kau begitu keras kepala!” bagaimanapun juga, aku tak ingin kehilangan Lian, sahabatku. Sebulan ini Lian sering ke Lapisan Tengah untuk menghabiskan waktu dengan iblis itu. Energi kehidupannya pasti sudah berkurang banyak. Setelah akhirnya kami bertemu, (to be more precise, I found her)ia mengatakan padaku ia ingin menghabiskan seluruh hidupnya dengan iblis itu.

Kalaupun aku menerima kenyataan bahwa kau mencintai iblis itu, ia hanya mempermainkan perasaanmu. Kau sendiri tahu jelas bahwa ia tetap menjalin hubungan denganmu meski ia tak mencintaimu.”

Aku tak peduli apakah ia mempermainkanku atau tidak. Aku tak peduli ia mencintaiku atau tidak. Aku bahkan akan memberikan nyawaku jika ia minta.” Aku sungguh tercengang mendengar ini keluar dari mulut Lian. Lian pasti sudah gila.

Apa kau sudah gila? Memberikan nyawamu? Yang benar saja! Kau baru sebulan bersamanya! Ia pasti menggunakan semacam sihir untuk membuatmu jadi seperti ini. Ini bukan cinta! Ini bukan dirimu! Ini hanya kegilaan!”

Terserah apa katamu! Aku mencintainya dan itu kenyataan yang tak akan pernah berubah!” Lian mengembangkan sayapnya yang putih dan terbang pergi.

Lian! Kembali!” aku mengeluarkan sayapku untuk mengejarnya.

Jangan ikuti aku!” Lian menggunakan kemampuannya mengendalikan cahaya dan mengarahkannya ke mataku.

Ukh! Tunggu!” karena menutup mata, aku tak dapat terbang dengan baik. Saat membuka mata, Lian sudah tak ada. Aku menghabiskan beberapa jam mencarinya, tapi tak dapat menemukannya. Apakah mungkin ia pergi ke Lapisan Bawah? Tidak mungkin. Makhluk cahaya tak dapat bertahan lebih dari sehari di sana.

Lian.... Sebesar itukah cintamu padanya? Hingga kau rela memberikan nyawamu. Hingga kau tidak mempedulikan terbalas tidaknya perasaanmu.

Kesedihanku berganti dengan kemarahan.

Iblis itu... Ia setuju menjalin hubungan dengan Lian meski tak memiliki perasaan yang sama. Ia tahu Lian menguras energi kehidupannya dengan menghabiskan waktu di sisinya. Ia tahu perasaan Lian padanya. Iblis itu tahu ia membunuh Lian perlahan-lahan.

Perasaan benci menguasai hatiku... “Kalau saja iblis itu tidak ada.”


Bersambung ke To Save My Dear Friend - Part 2

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar