Senin, 27 Agustus 2012

To Save My Dear Friend - Part 4




TO SAVE MY DEAR FRIEND
~ PART 4 ~



**Rihan dan Aine**

Rihan berjalan ke tepi jurang tempat ia menghabiskan waktunya dengan memandang matahari yang terbenam. Beberapa tumbuhan yang menyambutnya dalam perjalanan ini ia bakar hingga tak bersisa. Yup. No one survives. Get how strong he is? I mean, no scratch whatsoever. 

Jurang tersebut menghadap ke pemandangan matahari terbenam yang tak ada duanya, luar biasa indah. Rihan sering memandangnya, bukan karena ia igin menikmati pemandangan itu, tetapi ia mencari perbedaan dari pemandangan yang satu ke pemandangan yang lain. Kegiatan ini sedikit menghilangkan kebosanan dalam dirinya.

Ia berjalan ke tepi jurang, mencari perbedaan matahari terbenam hari ini dengan yang kemarin. Berusaha tidak memikirkan wajah Liana – yang bisa dibilang gagal karena wajahnya sesekali muncul di pikiran Rihan.

Pikiran Rihan yang sibuk dengan pergantian antara mencari perbedaan pemandangan di depannya dengan wajah menangis Liana membuatnya tak memperhatikan keadaan di sekelilingnya.

***

Aine mendekatinya dari belakang dengan perlahan, tanpa suara. Beberapa langkah lagi... Tiba-tiba Aine berhenti.

Apakah Lian akan membenciku? Jika aku membunuh iblis yang ia cin...-aku masih belum ingin mengakuinya, tapi Lian memang sangat mencin...tainya.... jika aku melakukannya, ia pasti membenciku...

Aku tak mau ia membenciku. Tapi ini demi kebaikannya. Tapi jika Lian membenciku...Tidak, ini demi kebaikannya, ia pasti mengerti, ia pasti akan memaafkanku...

Pikiran Aine dipenuhi oleh Liana yang mungkin akan membencinya, bagaimana wajah Liana yang dipenuhi kebencian padanya, apa yang akan dikatakan Liana padanya atau apakah Liana akan pernah mau mengatakan sesuatu padanya lagi, apakah Liana akan memaafkannya suatu hari nanti, tapi Aine tahu benar apa reaksi Liana nantinya. Persahabatan mereka yang panjang membuatnya mengerti apa yang akan terjadi.

Lian akan membenciku.

Aine hanya berdiri diam, beberapa meter dari Rihan. Jika Rihan membalikkan badan, Aine takkan bisa bersembunyi.

Lian akan membenciku. Lian akan membenciku selama-lamanya. Lian tidak akan pernah mau berbicara denganku lagi. Persahabatan kami akan berakhir. Lian akan membenciku. Lian akan membenciku. Lian akan membenciku.

Terus berulang-ulang...

***

Benar saja. Rihan yang telah menemukan beberapa perbedaan pada pemandangan di depannya, membalikkan badannya. Ia kaget melihat Malaikat etnis Putih berdiri beberapa meter di belakangnya.

Bagaiman mungkin aku tak menyadari keberadaan Malaikat ini?

adalah pikiran pertamanya, pikiran keduanya...

Ia lebih cantik dan anggun dari Liana..

menyadari dirinya membandingkan dua orang wanita mengejutkannya.

Apa yang terjadi pada diriku?!

Pikiran Rihan yang agak kacau terhenti oleh wajah malaikat di depannya.

Ia menangis... Sungguh.. indah..

Wajah menangis Liana langsung ditepis oleh apa yang Rihan lihat sekarang, wajah malaikat di depannya. 

***

Saat Rihan membalikkan badannya, matanya bertemu dengan mata Aine. Kebencian kembali dirasakan Aine.

Semua ini salahnya. Aku harus menyingkirkannya. Selama-lamanya. Ini demi Lian.

Nama Liana kontan mengganti perasaan benci Aine menjadi kesedihan mendalam.

Lian akan membenciku jika aku membunuhnya. Ia tak akan pernah memaafkanku.

Kesedihan semakin menyelimuti hati Aine. Kebencian mendalam yang tadinya menguasai hatinya saat bertemu pandang dengan Rihan, lenyap entah ke mana. Hanya kesedihan yang tertinggal. Kesedihan yang timbul dari perasaan sayangnya pada Liana.

Perlahan, Aine melangkahkan kakinya. Pandangannya tak lepas dari Rihan. Ia telah memutuskan. Dengan air mata yang masih mengalir, ia terus melangkah, selangkah demi selangkah.

Aku tak mau Lian mati.

Tak peduli apa pun resikonya, Aine tak mau Liana mati. Langkah demi langkah yang ia lakukan hanya memiliki satu tujuan.

***

Rihan tak dapat melepaskan pandangannya. Ia hanya berdiri diam memandangi malaikat di depannya. Matanya terpaku pada wajahnya, tak menyadari wajah tersebut semakin dekat dengannya.

Aine mengangkat tangannya. Ia mencekik Rihan. Mendorongnya hingga jatuh dari jurang.

Rihan yang dicekik dan didorong hingga jatuh, tak melakukan apa pun. Dengan mata terpaku pada wajah sang malaikat, ia jatuh.

Debaran ini... Debaran yang tak dapat kutenangkan meski dengan tarikan nafas.. Debaran yang tak berhenti dan membuat tubuhku panas.. Cintakah ini?

Dengan mata yang masih memandang sang malaikat, sang iblis mengakui perasaannya dalam hatinya.

Aku mencintainya. Ia membuatku jatuh cinta. Ia mengenalkan cinta padaku. Jika ia ingin aku lenyap, maka itu adalah harga yang murah untuk perasaan ini. Mati setelah mengenal perasaan ini tidak akan pernah kusesali.

Cinta. Perasaan yang tak pernah Rihan alami selama hidupnya. Perasaan yang membuatnya rela memberikan segalanya...mengorbankan segalanya..., bahkan nyawanya. Sekali lihat, siapa pun pasti tahu Aine hendak membunuh Rihan. Rihan mengerti bahwa malaikat yang mencekik dan mendorongnya hingga jatuh tak ingin ia hidup. 

Nyawa ini tak bearti jika kau tak menginnginkannya... Terima kasih telah mengenalkanku pada perasaan ini sebelum hidupku berakhir...

Ucapan terima kasih dalam hatinya disertai dengan senyum terbahagia di wajahnya yang asing dengan senyuman. Meski tak tahu mengapa seorang malaikat yang baru pertama kali ia lihat menginginkan nyawanya, Rihan tersenyum dari dalam hatinya. 

Rihan lalu membakar dirinya dengan kemampuannya mengendalikan api. Api yang berkobar dengan tubuhnya sebagai medium padam perlahan-lahan seiring dengan lenyapnya tubuh Rihan. Ia lenyap..., membaur dengan kegelapan yang mengikuti terbenamnya matahari.


***

Melihat Rihan membakar tubuhnya, Aine merasa kaget. Matanya membelalak melihat tubuh Rihan yang terbakar saat jatuh dari jurang. "Apa yang...," dua kata ini lepas dari bibir Aine tanpa ia sadari.

Akan tetapi, kekagetan tersebut hanya sesaat. Aine dilanda kepanikan melihat Rihan mati di hadapannya. Ia bahkan tidak memikirkan mengapa Rihan membakar dirinya sendiri.

Ia bunuh diri... Aku tidak membunuhnya... Ia bunuh diri... Ia membakar dirinya sendiri.. Aku tak bersalah... Kematiannya bukan salahku...

Berulang-ulang. Aine mengucapkannya bagai mantra di kepalanya. Berulang-ulang. Hingga kepanikan yang ia rasakan mereda.

Ya. Ini akhir yang terlalu bagus baginya. Seharusnya ia mati dengan lebih menderita...

Aine mencoba mengingat wajah Rihan di saat-saat terakhirnya, tapi kemudian menghentikan dirinya.

Ia telah pergi. Aku tak perlu membuang waktuku memikirkannya....

Sebenarnya, ia terlalu takut membayangkan wajah seseorang di saat-saat terakhirnya. Menghentikan usahanya membayangkan wajah Rihan di saat-saat terakhirnya, pikiran lain menyebabkan bibir Aine membentuk sebuah senyuman di wajahnya.

Aku tidak membunuhnya. Lian tak akan membenciku...

Akan tetapi, senyum Aine terhenti oleh sebuah pikiran.

Lian akan membenciku... Aku tidak menghentikan iblis itu membunuh dirinya sendiri dengan api...

Pikiran ini kemudian ia sanggah dengan pikiran lainnya.

Meskipun aku mencoba menghentikannya, api yang dikendalikan iblis berkekuatan tinggi itu takkan padam. Ya. Ia iblis berkekuatan tinggi. Apinya takkan padam dengan mudah.

Aine meyakinkan dirinya sendiri. Saat ingin mengembangkan sayapnya untuk kembali ke Lapisan Atas, keraguan muncul dalam dirinya. Apakah Liana akan mengikuti Rihan ke dunia sana? Mungkinkah Liana tak dapat menerima kematian Rihan, lalu bunuh diri? Liana bahkan rela mengorbankan nyawanya demi Rihan...

Aine menggelengkan kepalanya, kemudian mengembangkan sayap putihnya.


**Aine dan Liana**

Aine tak memberitahu Liana mengenai kematian Rihan. Liana yang tak memiliki petunjuk apa pun selain nama iblis yang dicintainya tak dapat menemukan Rihan di mana pun.

Ia telah meninggalkanmu” kata Aine dengan nada simpatik.

....”

Lian, berhentilah berharap.”

....”

Ia tak akan pernah kembali.”

...”

Lian.....ini kenyataan. Terimalah.”

....”

Liana tak merespon sama sekali. Tak ada ekspresi pada wajahnya. Tidak ada tanda-tanda ia akan bergerak. Matanya tak memperlihatkan kehidupan. Ia tidak mati, tapi tidak hidup. Kondisinya bagaikan membeku.

Lian... Kau masih punya aku.” dengan mata berkaca-kaca, Aine berusaha tersenyum.

Ia gagal.

Air mata Aine mengalir...

Aine menangis tersedu-sedu di samping Liana yang duduk diam di atas kasur berseprei putih.



TO SAVE MY DEAR FRIEND
~ END ~



Check out the real story : )

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar